Ayat
Tentang Pendidikan | Kajian Ayat- Ayat Pendidikan
I. TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
Ada beberapa ayat yang mengandung tujuan pendidikan islam, antara lain:
1. Surah al-Baqarah ayat 1-5
الم
(1) ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ
يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا
رَزَقْنَاهُمْ
يُنْفِقُونَ (3) وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ
مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآَخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4)
1. Alif laam miim.
2. Kitab (al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi rnereka
yang bertaqwa,
3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat,
dan menafkahkan sebagian rezki, yang Kami anugerahkan kepada mereka,
4. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (al Qur'an) yang telah diturunkan
kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu; serta mereka yakin
akan adanya (kehidupan) akhirat.
5. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb-nya, dan rnerekalah
orang-orang yang beruntung.
Syarh dan Tafsir singkat
- Orang yang bertakwa adalah orang yang mempersiapkan jiwa mereka untuk
menerima petunjuk Ciri orang yang bertaqwa: mengimani yang ghaib, mendirikan
shalat, serta menafkahkan sebagian rezeki.
- Yuqinun (yakin) adalah pengetahuan yang mantap tentang sesuatu dibarengi
dengan tersingkirnya keraguan maupun dalih-dalih yang dikemukakan lawan. Mereka
itulah orang-orang yang beruntung.
Dari hal diatas dapat dipahami bahwa surah al-baqarah ayat 1-5 kalaulah
dikaitkan dengan tujuan pendidikan sebagai berikut :
1. Mewujudkan manusia yang taqwa dan banyak beramal shaleh
2. Agar manusia mempercayai akan keberadaan Allah
3. Mewujudkan manusia yang percaya akan hari akhir
4. Mewujudkan kesuksesan dalam hidup.
Pendidikan sebagaimana pengertiannya yang disebutkan dalam UU No. 20 Tahun 2003
tentang Sisdiknas adalah "usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara".
Pendidikan yang dimaksud dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas di atas
adalah pendidikan yang mengarah pada pembentukan manusia yang berkualitas atau
manusia seutuhnya yang lebih dikenal dengan istilah insan kamil. Untuk menuju
terciptanya insan kamil di atas, maka pendidikan yang dikembangkan menurut
Mendiknas (2006: xix) adalah pendidikan yang memiliki empat segi yaitu : olah kalbu,
olah pikir, olah rasa, dan olah raga.
2. Surah al-Hajj ayat 41
الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا
الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ
الْمُنْكَرِ
وَلِلَّهِ
عَاقِبَةُ الْأُمُورِ(41)
"(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka
bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan Zakat, menyuruh berbuat yang
ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali
segala urusan ". (QS. 22:47).
Kaitannya dengan tujuan pendidikan sebagai berikut:
1. Mewujudkan seorang yang selalu menegakkan kebenaran dan mencegah kemunkaran.
2. Mewujudkan manusia yang selalu bertawakkal pada Allah.
II. SUBJEK PENDIDIKAN
1. Ar-Rahman ayat 1-4
الرَّحْمَنُ
(1) عَلَّمَ الْقُرْآَنَ (2) خَلَقَ الْإِنْسَانَ (3) عَلَّمَهُ الْبَيَانَ (4)
1. (Rabb) Yang Maha Pemurah,
2. Yang telab mengajarkan al Qur'an.
3. Dia menciptakan manusia
4. Mengajarnya pandai berbicara /AI-Bayan
Syarh dan Tafsir singkat
Allah adalah dzat yang Maha Mendidik. Dalam surat ini digunakan kata ar-Rahman
salah satu asma` al-Husna yang berarti Maha pemurah. Al-Qur'an adalah
firman-firman Allah yang disampaikan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad
SAW dengan lafal dan maknanya yang beribadah siapa yang membacanya, menjadi
bukti kebenaran mukjizat Nabi Muhammad SAW
AI-Bayan berarti jelas. Namun ia tidak terbatas pada ucapan, tetapi mencakup
segala bentuk ekspresi, termasuk seni dan raut muka.
Kaitannya dengan Subjek Pendidikan sebagai berikut:
1. Kata ar-Rahman menunjukkan bahwa sifat-sifat pendidik adalah murah hati,
penyayang dan lemah lembut, santun dan berakhlak mulia kepada anak didiknya dan
siapa saja (Kompetensi Personal)
2. Seorang guru hendaknya memiliki kompetensi paedagogis yang baik sebagaimana
Allah mengajarkan al-Quran kepada Nabi-NYA
3. Al-Quran menunjukkan sebagai materi yang diberikan kepada anak didik adalah
kebenaran/ilmu dari Allah (Kompetensi Profesional)
4. Keberhasilan pendidik adalah ketika anak didik mampu menerima dan
mengembangkan ilmu yang diberikan, sehingga anak didik menjadi generasi yang
memiliki kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelektual, sebagaimana
penjelasan AI-Bayan.
2. Surah. Luqman: 13
وَإِذْ
قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13)
”Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi
pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah,
Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.
Dari ayat tersebut dapat kita ambil pokok pikiran sebagai berikut:
1. Orang tua wajib memberi pendidikan kepada anak-anaknya.
2. Prioritas pertama adalah penanaman akidah, pendidikan akidah diutamakan
sebagai kerangka dasar/landasan dalam membentuk pribadi anak yang soleh
(Kompetensi Profesional).
3. Dalam mendidik hendaknya menggunakan pendekatan yang bersifat kasih sayang,
sesuai makna seruan Lukman kepada anak-anaknya, yaitu “Yaa Bunayyaa” (Wahai
anak-anakku), seruan tersebut menyiratkan muatan kasih sayang/sentuhan
kelembutan dan kemesraan, tetapi dalam koridor ketegasan dan kedisplinan, bukan
berarti mendidik dengan keras. (Kompetensi Personal).
3. Surah al-Kahf ayat 66
قَالَ
لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا (66)
”Musa berkata kepada Khidhr "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu
mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan
kepadamu" (QS. 18: 66)”.
Syarh dan Tafsir singkat
Dalam pertemuan kedua tokoh pada ayat ini diceritakan Nabi Musa yang terkesan
banyak menanyakan sesuatu kepada Khidhr yang memiliki ilmu khusus. Sementara
jawaban dari Khidhr a.s. menyatakan bahwa Nabi Musa tidak akan sanggup untuk
sabar bersamanya. Dan bagaimana Nabi Musa dapat sabar atas sesuatu, sementara ia
belum menjangkau secara menyeluruh beritanya.
Kaitan ayat ini dengan aspek pendidikan bahwa seorang pendidik hendaknya:
1. Menuntun anak didiknya
2. Memberi tahu kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi dalam menuntut ilmu,
3. Mengarahkannya untuk tidak mempelajari sesuatu jika sang pendidik mengetahui
bahwa potensi anak didiknya tidak sesuai dengan bidang ilmu yang akan
dipelajarinya.
III. OBJEK PENDIDIKAN
1. Surah asy-Syu'ara: 214
وَأَنْذِرْ
عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ (214)
"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat"( QS.
26: 214).
Syarh dan Tafsir singkat
Ketika ayat ini turun, Rasul SAW naik ke puncak bukit Shafa, di Mekah, lalu
menyeru keluarga dekat beliau dari keluarga besar 'Ady dan Fihr yang berinduk
pada suku Quraisy. Semua keluarga hadir atau mengirim utusan. Abu Lahab pun
datang, Ialu Nabi SAW bersabda: "bagaimana pendapat kalian, jika aku
berkata bahwa:di belakang lembah ini ada pasukan berkuda bermaksud menyerang
kalian, apakah kalian mempercayai aku?" mereka berkata: "Ya, kami
belum pernah mendapatkan darimu kecuali kebenaran". Lalu Nabi bersabda:
"Aku menyampaikan kepada kamu semua sebuah peringatan, bahwa di hadapan
sana (masa datang) ada siksa yang pedih". Abu Lahab yang mendengar sabda
beliau itu, berteriak kepada Nabi SAW berkata: "celakalah engkau sepanjang
hari, apakah untuk maksud itu engkau mengumpulkan kami?" Maka turunlah
surah Tabbat Yada Abi Lahab" (HR.Bukhori, Muslim, Ahmad dan lain-lain
melalui Ibn Abbas).
Demikianlah ayat ini mengajarkan kepada rasul SAW dan umatnya agar tidak pilih
kasih, atau memberi kemudahan kepada keluarga dalam hal pemberian peringatan
dan pendidikan
2. Surah ‘Abasa ayat 1-3
عَبَسَ
وَتَوَلَّى (1) أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى (2) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى
(3)
1. Dia (Muhammad ) bermuka masam dan berpaling
2. Karena telah datang seorang buta kepadanya
3. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya dari dosa
Syarah dan tafsir singkat
Ketika itu Rasulullah sedang berdakwah ditengah para pembesar Quraisy dengan
harapan mereka masuk Islam, namun kedatangan seorang buta bernama Abdullah bin
Ummi Maktum disambut Rasulullah dengan muka masam dan berpaling darinya (cuek),
padahal sibuta itu ingin memperoleh pelajaran tentang ajaran-ajaran Islam.
Serentak oleh Allah Rasulullah ditegur dengan turunnya surat ini.
Pelajaran yang dapat kita petik adalah:
1. Setiap insan berhak memperoleh pendidikan, tanpa mengenal ras, suku bangsa,
agama maupun kondisi pribadi/fisik dan perekonomiannya.
2. Sebagai seorang pendidik harus bijak dalam menghadapi anak didiknya dan
tidak membeda-bedakan hanya karena fisik yang tidak sempurna. Misal tingkatkan
pula pelayanan pendidikan pada peserta didik yang difabel.
IV. KEWAJIBAN BELAJAR MENGAJAR
1. Surah al-Ankabut: 19-20
أَوَلَمْ يَرَوْا كَيْفَ يُبْدِئُ اللَّهُ الْخَلْقَ ثُمَّ
يُعِيدُهُ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (19) قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ
فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ثُمَّ اللَّهُ يُنْشِئُ
النَّشْأَةَ الْآَخِرَةَ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (20)
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan
bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya
(kembali)”.
“Sesungguhnya.yang demikian itu mudah bagi Allah. (QS. 29: 99) Katakanlah:
"Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah
menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali
lagi. Sesungguhnya.Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS 29: 20”).
Dari ayat tersebut di atas (al-Ankabut: 20) memerintahkan untuk:
1. Melakukan perjalanan, dengannya seseorang akan menemukan banyak pelajaran
berharga baik melalui ciptaan Allah yang terhampar dan beraneka ragam, maupun
dari peninggalan lama yang masih tersisa puing-puingnya.
2. Melakukan pembelajaran, penelitian, dan percobaan (eksperimen) dengan
menggunakan akalnya untuk sampai kepada kesimpulan bahwa tidak ada yang kekal
di dunia ini, dan bahwa di balik peristiwa dan ciptaan itu, wujud satu kekuatan
dan kekuasaan Yang Maha Besar
2. Surat al-‘Alaq (ayat 1-5)
اقْرَأْ
بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ
وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3)
الَّذِي
عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
Kaitan dengan pendidikan:
1. Iqra` bisa berarti membaca atau mengkaji. sebagai aktivitas intelektual
dalam arti yang luas, guna memperoleh berbagai pemikiran dan pemahaman. Tetapi
segala pemikirannya itu tidak boleh lepas dari Aqidah Islam, karena iqra`
haruslah dengan bismi rabbika
2. Kata al-qalam adalah simbol transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi,
nilai dan keterampilan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kata ini
merupakan simbol abadi sejak manusia mengenal baca-tulis hingga dewasa ini.
Proses transfer budaya dan peradaban tidak akan terjadi tanpa peran penting
tradisi tulis–menulis yang dilambangkan dengan al-qalam.
Hubungan agama dan iptek? Secara garis besar, berdasarkan tinjauan ideologi
yang mendasari hubungan keduanya, terdapat 3 (tiga) jenis paradigma
1. Paradagima sekuler: paradigma yang memandang agama dan iptek adalah terpisah
satu sama lain. Sebab, dalam ideologi sekularisme Barat,agama telah dipisahkan
dari kehidupan (fashl al-din ‘an al-hayah). Eksistensi agama tidak dinafikan
hanya dibatasi perannya.
2. Paradigma sosialis, yaitu paradigma dari ideologi sosialisme yang menafikan
eksistensi agama sama sekali. Agama itu tidak ada, dus,tidak ada hubungan dan
kaitan apa pun dengan iptek.
3. Paradigma Islam, yaitu paradigma yang memandang bahwa agama adalah dasar dan
pengatur kehidupan.
V. MATERI PENDIDIKAN
1. Surah At-Taubah ayat 122
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا
نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ
وَلِيُنْذِرُوا
قَوْمَهُمْ
إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ (122)
"Tidak sepatutnya bagi
orang-orang yang muKmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak
pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapaorang untuk memperdalam
pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya,
supaya mereka itu dapat menjaga dirinya".
Syarh dan Tafsir singkat
Ayat ini memberi anjuran tegas (tah}d}>id}) kepada umat Islam agar ada
sebagian dari umat Islam untuk memperdalam agama. Dalam S}afwah al-Tafsi>r
dikatakan bahwa yang dimaksud kata tafaqquh fi al-di>n adalah menjadi
seorang yang mendalam ilmunya dan selalu memiliki tanggung jawab dalam
pencarian ilmu Allah.
Dengan demikian menurut tafsir ini dalam sistem pendidikan Islam tidak dikenal
dikhotomi pendidikan, karena akan menimbulkan dampak sebagai berikut :
1. Kesenjangan antara sistem pendidikan Islam dan ajaran Islam yang memisahkan
antara ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum (Kuntowijoyo, 1991: 352);
2. Disintregasi sistem pendidikan Islam;
2. Surat Luqman ayat 13
وَإِذْ
قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13)
”Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi
pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah,
Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.
Berdasarkan surat Luqman ayat 13 materi pendidikan yang di prioritaskan adalah
pendidikan akidah terlebih dahulu, dengan penyampaian lembut dan penuh kasih
sayang. kenapa dalam mendidik perlu diutamakan akidah terlebih dahulu? Kenapa
tidak yang lain? Jawabnya adalah karena akidah merupakan pondasi dasar bagi
manusia untuk mengarungi kehidupan ini. Akidah yang kuat akan membentengi anak
dari pengaruh negatif kehidupan dunia.
Setelah akidah anak kuat, orang tua perlu menekankan pendidikan pada aspek
ibadah seperti salat, berdakwah dengan memberi contoh terlebih dahulu, seperti
mencegah diri dari yang mungkar dan selalu melakukan kebaikan. Setelah itu
memberi nasehat kepada orang lain untuk meninggalkan kemungkaran dan
mengerjakan kebaikan.
Dan tidak kalah pentingnya adalah mendidik akhlak anak
V. METODE PENDIDIKAN
1. Surat An-Nahl ayat 125
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ
الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ
بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
(125)
“Ajaklah kepada jalan Tuhan mu dengan cara yang bijaksana dan dengan
mengajarkan yang baik, dan berdiskusilah dengan mereka secara lebih baik”.
Ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik dari ayat ini bahwa metode yang di
lakukan dalam proses pendidikan diantaranya:
1. Ceramah
2. Diskusi
2. Surat Al-‘Araf ayat 35
يَا بَنِي آَدَمَ إِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ
يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آَيَاتِي فَمَنِ اتَّقَى وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ
عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (35)
“Hai anak cucu Adam! Jika datang kepadamu Rasul-rasul sebangsamu yang
menceritakan kepadamu ayat-ayat-KU, maka barangsiapa yang bertaqwa dan
mengadakan perbaikan, niscaya mereka tidak merasa ketakutan”
Metode cerita / ceramah ini digunakan oleh Rasulullah untuk menyampaikan
perintah-perintah Allah.
3. Surat Ar-Rahman ayat 47-48
َبِأَيِّ
آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (47) ذَوَاتَا أَفْنَانٍ (48)
“ Nikmat yang manalagi yang akan kamu dustakan? Kedua surga itu mempunyai serba
macam pohon dan buah-buahan”.
Dalam surat Ar-Rahman ayat 47-48 tergambarkan bahwa Tanya jawab merupakan salah
satu metode yang digunakan dalam pendidikan.
VI. EVALUASI PENDIDIKAN
Surah al-Baqarah: 31
وَعَلَّمَ
آَدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ
أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (31)إِنْ
“Dan
Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian
mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman:”Sebutkanlah kepadaKu nama
benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar”.
Proses pendidikan terhadap manusia terjadi pertama kali ketika Allah SWT
selesai menciptakan Adam Alaihissalam, lalu Allah SWT mengumpulkan tiga
golongan mahluk yang diciptakan-Nya untuk diadakan Proses Belajar Mengajar
(PBM). Tiga golongan mahluk ciptaan Allah dimaksud yaitu Jin, Malaikat, dan
Manusia (Adam Alaihissalam) sebagai "mahasiswa" nya, sedangkan Allah
SWT bertindak sebagai "Maha Guru" nya. Setelah selesai PBM maka Allah
SWT mengadakan evaluasi kepada seluruh mahasiswa ( jin, malaikat, dan manusia)
dengan cara bertanya dan menyuruh menjelaskan seluruh materi pelajaran yang
diberikan, dan ternyata Adam lah (dari golongan manusia) yang berhasil menjadi
juara dalam ujian
Surat
al-‘Alaq (ayat 1-5)<br />اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3)الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)<br />Kaitan dengan pendidikan:1. Iqra` bisa berarti
membaca atau mengkaji. sebagai aktivitas intelektual dalam arti yang luas, guna
memperoleh berbagai pemikiran dan pemahaman. Tetapi segala pemikirannya itu
tidak boleh lepas dari Aqidah Islam, karena iqra` haruslah dengan bismi
rabbika2. Kata al-qalam adalah simbol transformasi ilmu pengetahuan dan
teknologi, nilai dan keterampilan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kata ini merupakan simbol abadi sejak manusia mengenal baca-tulis hingga dewasa
ini. Proses transfer budaya dan peradaban tidak akan terjadi tanpa peran
penting tradisi tulis–menulis yang dilambangkan dengan al-qalam